
Focus keyphrase: panduan thawaf dan sa’i
SEO title: Panduan Thawaf dan Sa’i yang Benar Tanpa Bingung
Slug: panduan-thawaf-dan-sai-yang-benar
Meta description: Pelajari panduan thawaf dan sa’i yang benar, urutan setiap putaran, bacaan, kesalahan umum, serta tips agar tidak bingung di Masjidil Haram.
Panduan Thawaf dan Sa’i yang Benar Tanpa Perlu Bingung di Lokasi
Thawaf dan sa’i merupakan bagian penting dalam rangkaian ibadah umrah. Namun, banyak jamaah merasa cemas sebelum melaksanakannya. Mereka khawatir salah menentukan titik awal, keliru menghitung putaran, atau terpisah dari rombongan.
Sebenarnya, pelaksanaan kedua ibadah tersebut dapat dipahami dengan mudah. Jamaah hanya perlu mengetahui urutan, arah perjalanan, dan ketentuan dasarnya. Oleh karena itu, panduan thawaf dan sa’i ini disusun secara praktis agar jamaah lebih tenang saat berada di Masjidil Haram.
Selain memahami tata caranya, jamaah juga perlu menjaga keselamatan. Jangan sampai keinginan mengejar amalan sunah justru menyebabkan jamaah berdesakan, mendorong orang lain, atau membahayakan diri sendiri.
Apa yang Dimaksud dengan Thawaf dan Sa’i?
Thawaf adalah ibadah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran. Jamaah memulainya dari arah Hajar Aswad dan mengakhirinya di tempat yang sama. Selama thawaf, posisi Ka’bah harus selalu berada di sebelah kiri jamaah.
Sementara itu, sa’i adalah perjalanan antara Bukit Safa dan Bukit Marwah sebanyak tujuh kali. Perjalanan dari Safa menuju Marwah dihitung satu kali. Kemudian, perjalanan dari Marwah kembali ke Safa dihitung satu kali berikutnya.
Urutan yang dicontohkan Rasulullah ﷺ adalah melakukan thawaf tujuh putaran, salat dua rakaat, lalu melaksanakan sa’i antara Safa dan Marwah.
Allah juga menjelaskan bahwa Safa dan Marwah termasuk bagian dari syiar-Nya. Hal tersebut tercantum dalam Surah Al-Baqarah ayat 158.
Persiapan Sebelum Memulai Thawaf
Persiapan yang baik akan membantu jamaah menjalankan thawaf dengan lebih nyaman. Sebelum masuk ke area thawaf, pastikan kondisi tubuh cukup kuat. Minumlah air secukupnya dan jangan memaksakan diri ketika sedang sakit.
Jamaah juga perlu memastikan aurat tertutup dengan baik. Selain itu, tubuh, pakaian, dan tempat thawaf harus terbebas dari najis. Panduan manasik Kementerian Agama memasukkan suci dari hadas dan najis sebagai syarat sah thawaf.
Karena itu, sebaiknya jamaah berwudu sebelum menuju area thawaf. Usahakan pergi ke toilet lebih dahulu agar tidak perlu keluar dari putaran. Bagi jamaah yang memiliki kondisi kesehatan khusus, konsultasikan tata cara bersuci kepada pembimbing ibadah.
Sebelum berangkat, lakukan beberapa persiapan berikut:
- Gunakan pakaian dan alas kaki yang nyaman.
- Simpan kartu hotel atau identitas jamaah.
- Bawa tas kecil yang tidak mengganggu gerakan.
- Tentukan titik pertemuan jika terpisah dari rombongan.
- Dengarkan arahan muthawwif sebelum memasuki area thawaf.
- Gunakan alat bantu menghitung jika mudah lupa.
Jangan membawa terlalu banyak barang. Area thawaf dapat sangat padat, sehingga barang bawaan yang besar akan menyulitkan jamaah dan orang lain.
Panduan Thawaf yang Benar Langkah demi Langkah
1. Menuju Garis Sejajar Hajar Aswad
Thawaf dimulai dari posisi yang sejajar dengan Hajar Aswad. Jamaah tidak harus berdiri tepat di depan Hajar Aswad. Saat ramai, cukup cari posisi yang sejajar dengan sudut tersebut.
Di area Masjidil Haram terdapat tanda yang membantu jamaah mengenali arah Hajar Aswad. Setelah berada pada posisi yang benar, bersiaplah memulai putaran pertama.
Jangan berhenti terlalu lama di jalur jamaah. Hal itu dapat menghambat pergerakan dan menyebabkan orang lain bertabrakan.
2. Memastikan Ka’bah Berada di Sebelah Kiri
Setelah melewati titik Hajar Aswad, bergeraklah berlawanan arah jarum jam. Dengan arah tersebut, Ka’bah akan selalu berada di sebelah kiri.
Jangan berbalik arah meskipun terpisah dari rombongan. Tetap ikuti arus jamaah sampai menemukan tempat yang lebih aman untuk menunggu.
Thawaf harus dilakukan di luar bangunan Ka’bah. Oleh sebab itu, jamaah tidak boleh memotong jalan melalui Hijir Ismail. Area Hijir Ismail merupakan bagian dari bangunan Ka’bah, sehingga jamaah harus mengelilinginya dari luar.
3. Melakukan Istilam Tanpa Memaksakan Diri
Saat sejajar dengan Hajar Aswad, jamaah dapat mengangkat tangan kanan, menghadap atau memberi isyarat ke arahnya, lalu membaca:
Bismillāhi, Allāhu Akbar.
Mencium atau menyentuh Hajar Aswad merupakan amalan sunah jika keadaan memungkinkan. Namun, jamaah tidak perlu memaksakan diri ketika area tersebut penuh.
Panduan resmi Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi mengingatkan bahwa mencium Hajar Aswad adalah sunah bagi orang yang mudah melakukannya. Ketika terjadi kepadatan, jamaah cukup melanjutkan thawaf tanpa berdesakan.
Keselamatan jamaah lain harus menjadi perhatian. Jangan mendorong, menarik pakaian orang, atau menyakiti jamaah demi mendekati Hajar Aswad.
4. Mengelilingi Ka’bah Sebanyak Tujuh Putaran
Satu putaran dihitung sejak jamaah melewati garis sejajar Hajar Aswad hingga kembali ke garis tersebut. Setelah sampai di Hajar Aswad, berarti satu putaran telah selesai.
Lanjutkan cara yang sama sampai tujuh putaran. Berikut pola hitungan yang perlu diingat:
- Hajar Aswad ke Hajar Aswad: putaran pertama.
- Hajar Aswad ke Hajar Aswad: putaran kedua.
- Lanjutkan sampai putaran ketujuh.
Gunakan jari, gelang penghitung, atau aplikasi sederhana untuk membantu. Namun, jangan terlalu fokus pada telepon genggam karena dapat membuat jamaah menabrak orang lain.
Jika ragu antara empat atau lima putaran, gunakan angka yang lebih sedikit. Setelah itu, tambahkan putaran sampai yakin telah menyelesaikan tujuh putaran. Cara ini juga disebutkan dalam panduan manasik Kementerian Agama.
5. Membaca Doa dan Zikir Selama Thawaf
Tidak perlu merasa panik jika tidak menghafal doa yang panjang. Jamaah dapat berzikir, membaca Al-Qur’an, beristigfar, berselawat, atau menyampaikan doa dengan bahasa yang dipahami.
Berdoalah dengan suara pelan. Dengan demikian, jamaah tidak mengganggu kekhusyukan orang lain.
Di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, jamaah dapat membaca:
Rabbanā ātinā fid-dunyā hasanah, wa fil-ākhirati hasanah, wa qinā ‘adzāban nār.
Artinya, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.”
Panduan resmi Saudi juga menganjurkan jamaah berdoa dan bermunajat sesuai kebutuhan selama thawaf.
6. Melakukan Raml dan Idhthiba’ bagi Laki-Laki
Dalam thawaf umrah, jamaah laki-laki disunahkan melakukan idhthiba’. Caranya yaitu meletakkan bagian tengah kain ihram di bawah ketiak kanan. Kemudian, kedua ujung kain diletakkan di atas bahu kiri sehingga bahu kanan terbuka.
Laki-laki juga disunahkan melakukan raml pada tiga putaran pertama. Raml berarti berjalan agak cepat dengan langkah pendek, bukan berlari kencang. Empat putaran berikutnya dilakukan dengan berjalan biasa.
Namun, sunah tersebut dilakukan jika keadaan memungkinkan. Ketika area sangat padat, berjalan biasa lebih aman. Perempuan tidak melakukan idhthiba’ maupun raml.
Apa yang Dilakukan Setelah Selesai Thawaf?
Setelah tujuh putaran selesai, jamaah laki-laki menutup kembali bahu kanannya. Selanjutnya, jamaah dapat melaksanakan salat sunah thawaf sebanyak dua rakaat.
Salat tersebut dapat dilakukan di belakang Maqam Ibrahim jika kondisinya memungkinkan. Namun, jangan memaksakan diri salat tepat di dekat Maqam Ibrahim saat penuh. Jamaah dapat salat di tempat lain di dalam Masjidil Haram.
Pada rakaat pertama, jamaah disunahkan membaca Surah Al-Kafirun setelah Al-Fatihah. Kemudian, pada rakaat kedua, jamaah dapat membaca Surah Al-Ikhlas.
Setelah salat, berdoalah kepada Allah. Jamaah juga dapat minum air zamzam sebelum menuju area sa’i. Panduan resmi Saudi menegaskan bahwa salat sunah thawaf dapat dikerjakan di bagian lain Masjidil Haram untuk menghindari kepadatan.
Panduan Sa’i yang Benar dari Safa ke Marwah
Setelah menyelesaikan rangkaian thawaf, ikuti papan petunjuk menuju tempat sa’i atau Mas’a. Jangan langsung mengikuti arus tanpa memperhatikan tanda. Pastikan perjalanan dimulai dari Safa, bukan Marwah.
1. Memulai Sa’i dari Bukit Safa
Saat mendekati Safa, jamaah dapat membaca bagian Surah Al-Baqarah ayat 158 yang menjelaskan Safa dan Marwah sebagai syiar Allah. Kemudian, jamaah membaca:
Abda’u bimā bada’allāhu bih.
Artinya, “Aku memulai dengan apa yang Allah mulai.”
Setelah sampai di area Safa, menghadaplah ke arah Ka’bah jika memungkinkan. Angkat tangan seperti ketika berdoa, bukan seperti takbiratul ihram. Selanjutnya, bacalah takbir, tahlil, zikir, dan doa.
Jamaah tidak wajib naik hingga ke bagian batu paling tinggi. Cukup sampai di area yang telah ditetapkan sebagai batas Safa.
2. Berjalan dari Safa Menuju Marwah
Perjalanan dari Safa ke Marwah dihitung sebagai perjalanan pertama. Berjalanlah dengan tenang sambil berzikir atau berdoa.
Ketika sampai di Marwah, jamaah telah menyelesaikan satu perjalanan. Setelah itu, berbaliklah menuju Safa. Perjalanan Marwah ke Safa dihitung sebagai perjalanan kedua.
3. Berlari Kecil di Antara Lampu Hijau
Di jalur sa’i terdapat area yang ditandai dengan lampu hijau. Jamaah laki-laki disunahkan berlari kecil di antara dua tanda tersebut.
Setelah melewati lampu hijau kedua, jamaah kembali berjalan biasa. Sementara itu, jamaah perempuan tetap berjalan normal dan tidak perlu berlari kecil.
Jangan melakukan lari kecil jika kondisi tubuh tidak memungkinkan. Lansia, jamaah sakit, dan orang yang berisiko jatuh dapat berjalan sesuai kemampuan.
4. Menyelesaikan Tujuh Perjalanan
Berikut urutan hitungan sa’i yang benar:
- Safa menuju Marwah.
- Marwah menuju Safa.
- Safa menuju Marwah.
- Marwah menuju Safa.
- Safa menuju Marwah.
- Marwah menuju Safa.
- Safa menuju Marwah.
Dengan demikian, perjalanan ketujuh selalu berakhir di Marwah. Jamaah tidak perlu kembali lagi ke Safa setelah menyelesaikan perjalanan terakhir. Ketentuan hitungan tersebut dijelaskan dalam panduan Kementerian Agama dan panduan resmi Saudi.
Berbeda dengan thawaf, suci dari hadas bukan syarat sah sa’i menurut panduan manasik Kementerian Agama. Meskipun demikian, jamaah tetap dianjurkan menjaga wudu dan kesucian selama melaksanakannya.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Thawaf dan Sa’i
Salah Memulai Sa’i dari Marwah
Sa’i harus dimulai dari Safa. Karena itu, perhatikan papan petunjuk sebelum masuk ke jalur. Jangan hanya mengikuti jamaah lain karena mereka mungkin sedang berada pada perjalanan yang berbeda.
Menganggap Safa ke Safa Sebagai Satu Putaran
Kesalahan ini membuat jamaah berjalan sebanyak 14 kali. Hitungan yang benar adalah Safa ke Marwah satu kali dan Marwah ke Safa satu kali.
Memotong Jalur Melalui Hijir Ismail
Jamaah harus mengelilingi Hijir Ismail dari luar. Memotong jalan melalui bagian dalamnya membuat putaran tersebut tidak memenuhi ketentuan thawaf.
Memaksakan Diri Mencium Hajar Aswad
Mencium Hajar Aswad adalah sunah. Sebaliknya, menjaga keselamatan dan tidak menyakiti jamaah lain merupakan hal yang harus diperhatikan. Cukup lakukan isyarat dari kejauhan ketika situasi padat.
Berhenti Mendadak di Tengah Arus Jamaah
Berhenti secara tiba-tiba dapat menyebabkan tabrakan. Jika perlu memperbaiki pakaian, mengecek hitungan, atau menunggu rombongan, bergeraklah perlahan menuju sisi jalur.
Membaca Doa Terlalu Keras
Doa dengan suara keras dapat mengganggu jamaah lain. Bacalah doa secara perlahan dan penuh penghayatan. Tidak perlu berlomba dengan suara rombongan lain.
Tips agar Tidak Bingung di Masjidil Haram
Pertama, ikuti arahan pembimbing dan jangan berjalan terlalu jauh dari kelompok. Kedua, tentukan titik pertemuan yang mudah dikenali sebelum thawaf dimulai.
Ketiga, hafalkan pola sederhana berikut:
Thawaf: Hajar Aswad ke Hajar Aswad sebanyak tujuh kali.
Sa’i: Safa ke Marwah dihitung satu kali dan perjalanan ketujuh berakhir di Marwah.
Selanjutnya, jangan panik jika terpisah. Ikuti arah pergerakan jamaah, cari tempat yang lebih longgar, lalu hubungi pembimbing. Hindari melawan arus karena tindakan tersebut dapat membahayakan diri sendiri.
Jamaah lansia atau memiliki keterbatasan fisik dapat memakai kursi roda maupun fasilitas bantuan yang tersedia. Thawaf dan sa’i dengan kursi roda diperbolehkan bagi jamaah yang membutuhkannya.
Pertanyaan Seputar Panduan Thawaf dan Sa’i
Apakah harus membaca doa khusus pada setiap putaran?
Jamaah dapat membaca zikir dan doa yang dipahami. Tidak perlu memaksakan diri menghafal bacaan panjang yang justru membuat kehilangan konsentrasi.
Bagaimana jika wudu batal saat thawaf?
Berhentilah dengan tenang dan keluar dari arus jamaah. Setelah itu, berwudulah kembali. Karena terdapat rincian pendapat fikih mengenai cara melanjutkannya, ikuti arahan pembimbing ibadah yang mendampingi rombongan.
Apakah sa’i harus dilakukan dalam keadaan berwudu?
Wudu tidak menjadi syarat sah sa’i. Namun, menjaga wudu tetap dianjurkan agar jamaah dapat beribadah dalam keadaan suci.
Apakah jamaah perempuan harus berlari di lampu hijau?
Tidak. Lari kecil di antara lampu hijau disunahkan bagi laki-laki. Jamaah perempuan cukup berjalan secara normal.
Apa yang dilakukan setelah selesai sa’i?
Setelah sa’i berakhir di Marwah, jamaah umrah melakukan tahallul dengan mencukur atau memendekkan rambut. Setelah tahallul selesai, rangkaian umrah pun telah disempurnakan.
Penutup
Memahami panduan thawaf dan sa’i sebelum berangkat akan membuat pelaksanaan umrah terasa lebih tenang. Jamaah tidak perlu menghafal terlalu banyak hal sekaligus. Ingatlah tiga patokan utama, yaitu arah perjalanan, titik awal, dan jumlah putaran.
Thawaf dilakukan tujuh kali dengan Ka’bah di sebelah kiri. Sa’i dimulai dari Safa, dilakukan tujuh kali perjalanan, dan berakhir di Marwah. Selain itu, utamakan keselamatan, ketertiban, serta kekhusyukan selama beribadah.
Persiapkan diri melalui manasik dan dengarkan arahan pembimbing. Dengan persiapan yang matang, jamaah dapat lebih fokus berdoa serta menikmati setiap momen ibadah di Tanah Suci.
Semoga Allah menerima ibadah umrah kita, memberikan kemudahan selama perjalanan, dan mengaruniakan umrah yang mabrur.

Previous Post
Next Post