Zam Zam Square Jalan Raya Condet
+62 813 9800 2220

Amalan Sunnah di Hari Jumat Saat Berada di Makkah dan Madinah

Amalan Sunnah di Hari Jumat Saat Berada di Makkah dan Madinah

Amalan Sunnah di Hari Jumat Saat Berada di Makkah dan Madinah

Hari Jumat merupakan hari yang istimewa bagi umat Islam. Keistimewaan tersebut semakin terasa ketika seorang muslim sedang berada di Makkah atau Madinah. Suasana Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dapat membantu hati menjadi lebih tenang serta mendorong seseorang untuk memperbanyak ibadah.

Namun, keberadaan di Tanah Suci sebaiknya tidak hanya diisi dengan mengambil foto, berbelanja, atau berjalan-jalan. Seorang jamaah perlu memanfaatkan setiap waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Salah satunya dengan mengerjakan amalan sunnah di hari Jumat sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.

Amalan pada hari Jumat di Makkah dan Madinah pada dasarnya sama dengan amalan Jumat di tempat lain. Tidak ada ibadah khusus yang harus dibuat sendiri hanya karena sedang berada di Tanah Suci. Meski demikian, kesempatan beribadah di dua masjid mulia tersebut tentu memiliki keutamaan yang sangat besar.

Keutamaan Hari Jumat bagi Umat Islam

Hari Jumat merupakan hari terbaik dalam satu pekan. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa hari terbaik ketika matahari terbit adalah hari Jumat. Pada hari tersebut, Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan, dimasukkan ke dalam surga, dan dikeluarkan darinya. Hari kiamat juga akan terjadi pada hari Jumat.

Selain itu, Allah memerintahkan kaum muslimin untuk mendatangi salat Jumat dan meninggalkan kegiatan jual beli ketika panggilan salat telah dikumandangkan. Perintah tersebut terdapat dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 9.

Oleh karena itu, jamaah yang sedang berada di Makkah atau Madinah perlu menyusun kegiatan dengan baik. Jangan sampai agenda belanja, perjalanan ziarah, atau kegiatan rombongan membuat seseorang terlambat menghadiri salat Jumat.

Sebaliknya, jadikan hari Jumat sebagai kesempatan untuk memperkuat hubungan dengan Allah. Persiapkan diri sejak pagi, datang lebih awal ke masjid, dan kurangi kegiatan yang tidak diperlukan.

Keutamaan Beribadah di Makkah dan Madinah

Makkah dan Madinah memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam Islam. Di Makkah terdapat Masjidil Haram, sedangkan di Madinah terdapat Masjid Nabawi.

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa satu kali salat di Masjid Nabawi lebih utama daripada seribu kali salat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram. Sementara itu, satu kali salat di Masjidil Haram lebih utama daripada seratus ribu kali salat di tempat lain.

Keutamaan tersebut seharusnya membuat jamaah semakin bersemangat menjaga salat berjamaah. Meski demikian, pahala yang besar harus diiringi niat yang ikhlas dan pelaksanaan ibadah yang benar.

Jamaah juga perlu menjaga adab. Jangan mendorong, menyakiti, atau mengganggu jamaah lain hanya demi memperoleh tempat tertentu. Sebab, menjaga keselamatan serta kehormatan sesama muslim merupakan bagian penting dari ibadah.

Amalan Sunnah di Hari Jumat Saat Berada di Tanah Suci

Berikut beberapa amalan sunnah yang dapat dilakukan ketika hari Jumat tiba di Makkah maupun Madinah.

1. Mandi Jumat dan Membersihkan Diri

Amalan sunnah di hari Jumat yang pertama adalah mandi. Mandi Jumat membantu tubuh menjadi bersih dan segar sebelum menghadiri salat berjamaah.

Rasulullah ﷺ menganjurkan seseorang untuk mandi, membersihkan diri, memakai minyak rambut atau wewangian, kemudian berangkat menuju salat Jumat. Beliau juga mengajarkan agar seseorang tidak memisahkan dua jamaah yang telah duduk berdekatan.

Jamaah dapat mandi sejak pagi sebelum berangkat ke Masjidil Haram atau Masjid Nabawi. Selain mandi, rapikan rambut, bersihkan mulut, potong kuku jika memang sudah panjang, dan kenakan pakaian yang bersih.

Bagi laki-laki, memakai wewangian juga termasuk persiapan yang baik. Namun, gunakan secukupnya agar aromanya tidak mengganggu jamaah lain.

Ketika berada di Makkah dalam keadaan ihram, jamaah harus tetap memperhatikan larangan ihram. Jangan memakai parfum apabila masih berada dalam kondisi ihram.

2. Mengenakan Pakaian yang Bersih dan Sopan

Hari Jumat merupakan waktu berkumpulnya kaum muslimin. Oleh sebab itu, jamaah dianjurkan mengenakan pakaian yang bersih, sopan, serta sesuai syariat.

Tidak harus memakai pakaian baru atau mahal. Hal yang paling penting adalah kebersihan dan kesopanan. Jamaah laki-laki dapat memakai gamis, baju koko, atau pakaian lain yang menutup aurat.

Sementara itu, jamaah perempuan perlu mengenakan pakaian yang longgar, tidak transparan, dan menutup aurat dengan sempurna. Hindari pakaian yang terlalu mencolok karena dapat menarik perhatian orang lain.

Sebaiknya, siapkan pakaian Jumat sejak malam sebelumnya. Dengan demikian, jamaah tidak perlu tergesa-gesa mencari pakaian ketika waktu keberangkatan ke masjid semakin dekat.

3. Membaca Surah Al-Kahfi

Membaca Surah Al-Kahfi merupakan salah satu amalan yang banyak dikerjakan pada hari Jumat. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa orang yang membaca Surah Al-Kahfi pada hari Jumat akan mendapatkan cahaya di antara dua Jumat. Riwayat tersebut dinilai hasan oleh sebagian ulama hadis.

Jamaah dapat mulai membacanya sejak malam Jumat atau menyelesaikannya pada hari Jumat. Jika tidak mampu membaca sekaligus, bagi bacaan menjadi beberapa bagian.

Misalnya, baca sebagian setelah salat Subuh. Setelah itu, lanjutkan sebelum berangkat salat Jumat atau setelah salat Asar.

Ketika berada di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, usahakan membaca dengan suara pelan. Jangan sampai bacaan kita mengganggu orang yang sedang salat, berzikir, atau membaca Al-Qur’an di dekat kita.

Selain membaca, cobalah memahami maknanya. Surah Al-Kahfi mengandung banyak pelajaran mengenai keimanan, ilmu, kekayaan, kekuasaan, serta perlindungan dari berbagai fitnah.

4. Memperbanyak Salawat kepada Nabi

Memperbanyak salawat termasuk amalan sunnah di hari Jumat yang mudah dilakukan. Salawat dapat dibaca ketika berjalan menuju masjid, menunggu salat, berada di dalam bus, atau beristirahat di hotel.

Rasulullah ﷺ memerintahkan umatnya untuk memperbanyak salawat pada hari Jumat karena salawat umat beliau akan disampaikan kepadanya.

Ketika berada di Madinah, kerinduan kepada Rasulullah ﷺ biasanya terasa lebih kuat. Namun, hendaknya rasa cinta tersebut diwujudkan dengan cara yang benar. Salah satunya adalah mengikuti sunnah beliau dan memperbanyak salawat.

Bacaan salawat yang paling utama adalah salawat yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ, seperti salawat Ibrahimiyah. Meski demikian, jamaah juga dapat membaca salawat pendek:

“Allahumma shalli wa sallim ‘ala nabiyyina Muhammad.”

Bacalah dengan penuh penghayatan. Jangan hanya mengejar jumlah, tetapi hadirkan rasa cinta, penghormatan, dan keinginan untuk meneladani Rasulullah ﷺ.

5. Datang Lebih Awal ke Masjid

Datang lebih awal merupakan amalan penting pada hari Jumat. Rasulullah ﷺ menjelaskan besarnya pahala bagi orang yang berangkat lebih awal menuju salat Jumat. Dalam hadis tersebut, orang yang datang pada waktu pertama digambarkan seperti berkurban dengan seekor unta. Setelah imam keluar untuk berkhotbah, para malaikat ikut mendengarkan khutbah.

Masjidil Haram dan Masjid Nabawi biasanya dipenuhi jamaah pada hari Jumat. Karena itu, jangan berangkat terlalu dekat dengan waktu azan.

Jamaah sebaiknya berangkat beberapa jam lebih awal, terutama pada musim umrah yang ramai. Akan tetapi, perhatikan juga kondisi kesehatan, suhu udara, jarak hotel, serta arahan petugas.

Bawalah perlengkapan secukupnya. Hindari membawa tas besar yang dapat menghabiskan tempat atau mengganggu jamaah lain.

Selain itu, tentukan titik pertemuan bersama rombongan. Langkah ini penting untuk menghindari kebingungan apabila anggota rombongan terpisah setelah salat.

6. Mengerjakan Salat Sunnah Sebelum Khutbah

Setelah tiba di masjid, jamaah dapat mengerjakan salat Tahiyatul Masjid. Kemudian, jamaah dapat memperbanyak salat sunnah sesuai kemampuan hingga imam mulai menyampaikan khutbah.

Dalam hadis tentang persiapan Jumat, Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa seseorang dapat mengerjakan salat sesuai yang Allah tetapkan baginya sebelum mendengarkan khutbah.

Akan tetapi, jamaah perlu menyesuaikan diri dengan kondisi. Jangan memaksakan salat di jalan yang digunakan orang untuk melintas. Pilihlah tempat yang aman dan tidak menghalangi jamaah lain.

Apabila datang ketika khutbah telah berlangsung, kerjakan Tahiyatul Masjid dua rakaat secara singkat. Setelah itu, segera duduk dan dengarkan khutbah dengan tenang.

7. Mendengarkan Khutbah dengan Tenang

Mendengarkan khutbah merupakan bagian penting dari pelaksanaan salat Jumat. Ketika imam sudah berkhotbah, jamaah harus berhenti berbicara dan memperhatikan isi khutbah.

Bahkan, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa menyuruh orang lain diam ketika khutbah berlangsung dapat termasuk perbuatan sia-sia.

Oleh sebab itu, matikan suara telepon genggam sebelum khutbah dimulai. Hindari membuka media sosial, mengambil foto, merekam video, atau berbincang dengan teman.

Di Makkah dan Madinah, khutbah biasanya disampaikan dalam bahasa Arab. Walaupun tidak memahami seluruh isinya, jamaah tetap perlu menyimak dan menjaga ketenangan.

Beberapa jamaah mungkin menggunakan perangkat penerjemah resmi. Namun, pastikan penggunaannya tidak mengganggu kekhusyukan dan tetap mengikuti aturan masjid.

8. Memperbanyak Doa pada Hari Jumat

Hari Jumat memiliki waktu istimewa ketika doa seorang muslim berpeluang besar dikabulkan. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa terdapat waktu yang singkat pada hari Jumat. Apabila seorang muslim memohon kepada Allah pada waktu tersebut, Allah akan mengabulkan permohonannya.

Para ulama memiliki beberapa pendapat mengenai waktu tersebut. Salah satu pendapat yang kuat menyebutkan bahwa waktunya berada pada akhir hari Jumat, yaitu setelah Asar hingga menjelang Magrib.

Oleh karena itu, manfaatkan waktu setelah Asar untuk berdoa. Jamaah dapat berdoa di masjid, di hotel, atau di tempat yang tenang.

Mohonlah ampunan, keteguhan iman, keluarga yang saleh, rezeki halal, kesehatan, dan kemudahan dalam menjalankan ibadah. Selain itu, doakan pula orang tua, pasangan, anak, sahabat, serta seluruh kaum muslimin.

Berdoa di Tanah Suci tidak harus selalu dilakukan dengan suara keras atau sambil menangis. Berdoalah dengan rendah hati, penuh harapan, dan yakin kepada Allah.

9. Memperbanyak Zikir dan Istigfar

Selain berdoa, jamaah dapat mengisi hari Jumat dengan memperbanyak zikir. Bacalah tasbih, tahmid, tahlil, takbir, dan istigfar.

Zikir dapat dilakukan sambil menunggu waktu salat atau ketika berjalan dengan tertib. Akan tetapi, jangan membaca terlalu keras hingga mengganggu orang lain.

Istigfar juga sangat penting. Perjalanan umrah bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga kesempatan untuk membersihkan hati dari dosa.

Karena itu, gunakan hari Jumat untuk melakukan muhasabah. Ingat kembali kesalahan yang pernah dilakukan. Kemudian, bertobatlah dengan sungguh-sungguh dan bertekad tidak mengulanginya.

10. Bersedekah dan Membantu Jamaah Lain

Sedekah dapat dilakukan setiap hari, termasuk pada hari Jumat. Saat berada di Makkah dan Madinah, peluang untuk membantu orang lain sangat banyak.

Jamaah dapat membagikan air minum, makanan, kurma, atau kebutuhan sederhana kepada orang yang membutuhkan. Namun, pembagian sedekah harus mengikuti peraturan setempat.

Jangan membagikan makanan di tempat yang dapat menimbulkan kerumunan. Jangan pula meletakkan barang sembarangan karena dapat mengotori masjid atau membahayakan jamaah.

Sedekah juga tidak selalu berbentuk uang. Menunjukkan jalan, membantu jamaah lanjut usia, memberikan tempat duduk, dan mengangkat barang orang lain dapat menjadi kebaikan.

Bahkan, menahan diri agar tidak menyakiti jamaah lain juga merupakan bentuk akhlak mulia.

Perbedaan Pelaksanaan Jumat di Makkah dan Madinah

Saat berada di Makkah, jamaah dapat berusaha menghadiri salat Jumat di Masjidil Haram. Sementara itu, ketika berada di Madinah, jamaah dapat menghadirinya di Masjid Nabawi.

Meski kedua masjid memiliki keutamaan besar, jamaah tidak boleh memaksakan diri apabila kondisi kesehatan tidak memungkinkan. Jamaah lansia, orang sakit, dan mereka yang memiliki keterbatasan perlu mempertimbangkan keselamatan.

Apabila akses menuju masjid utama ditutup karena penuh, ikuti arahan petugas. Salatlah di tempat yang telah disediakan dan jangan menerobos barikade.

Khusus perempuan, salat Jumat tidak diwajibkan sebagaimana laki-laki. Namun, perempuan boleh menghadiri salat Jumat jika kondisinya aman dan memungkinkan. Apabila tidak menghadiri salat Jumat, perempuan tetap mengerjakan salat Zuhur.

Hindari Amalan yang Tidak Memiliki Tuntunan

Semangat beribadah perlu dibimbing dengan ilmu. Jangan mengkhususkan ritual tertentu pada hari Jumat tanpa dasar yang jelas.

Selain itu, jangan meyakini bahwa menyentuh bagian tertentu dari bangunan masjid, tiang, pintu, atau pagar dapat mendatangkan keberkahan khusus. Hindari pula berebut tempat hingga menyakiti orang lain.

Di Madinah, jamaah juga perlu menjaga adab saat menyampaikan salam kepada Rasulullah ﷺ. Sampaikan salam dengan tenang, tidak berteriak, dan jangan meminta sesuatu kepada penghuni kubur.

Semua doa dan permohonan hanya ditujukan kepada Allah. Sementara itu, rasa cinta kepada Rasulullah ﷺ diwujudkan dengan mengikuti ajaran beliau.

Contoh Jadwal Amalan Jumat di Tanah Suci

Jamaah dapat menggunakan susunan sederhana berikut:

  • Setelah Subuh: membaca Al-Qur’an dan sebagian Surah Al-Kahfi.
  • Pagi hari: mandi Jumat, membersihkan diri, dan mengenakan pakaian bersih.
  • Menjelang siang: berangkat lebih awal menuju masjid.
  • Sebelum khutbah: salat sunnah, membaca Al-Qur’an, dan berzikir.
  • Saat khutbah: diam dan menyimak dengan baik.
  • Setelah salat Jumat: berzikir, berdoa, dan beristirahat secukupnya.
  • Setelah Asar: memperbanyak doa hingga menjelang Magrib.
  • Sepanjang hari: memperbanyak salawat, istigfar, dan sedekah.

Jadwal tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi kesehatan serta agenda rombongan. Hal terpenting adalah menjaga ibadah wajib dan tidak membebani diri secara berlebihan.

Penutup

Mengerjakan amalan sunnah di hari Jumat saat berada di Makkah dan Madinah merupakan kesempatan yang sangat berharga. Jamaah dapat mengisinya dengan mandi Jumat, mengenakan pakaian bersih, membaca Surah Al-Kahfi, memperbanyak salawat, datang lebih awal ke masjid, mendengarkan khutbah, berdoa, berzikir, dan bersedekah.

Namun, ibadah yang banyak harus tetap disertai keikhlasan dan akhlak yang baik. Jangan sampai keinginan mendapatkan tempat utama membuat kita mendorong atau menyakiti jamaah lain.

Manfaatkan keberadaan di Tanah Suci untuk membangun kebiasaan ibadah yang lebih baik. Setelah kembali ke Indonesia, teruskan amalan Jumat tersebut secara konsisten. Dengan begitu, perjalanan umrah tidak hanya meninggalkan kenangan, tetapi juga membawa perubahan nyata dalam kehidupan.

Semoga Allah menerima seluruh ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan memberikan kesempatan untuk kembali beribadah di Makkah serta Madinah. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *