Zam Zam Square Jalan Raya Condet
+62 813 9800 2220

Cara Umroh Sesuai Sunnah: Panduan Praktis Sesuai Tuntunan Nabi

Cara Umroh Sesuai Sunnah: Panduan Praktis Sesuai Tuntunan Nabi

Cara Umroh Sesuai Sunnah: Panduan Praktis Sesuai Tuntunan Nabi

Menunaikan umroh bukan sekadar melakukan perjalanan ke Makkah. Lebih dari itu, umroh adalah ibadah yang harus dilakukan dengan niat ikhlas dan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ. Oleh karena itu, setiap jemaah perlu memahami cara umroh sesuai sunnah sebelum berangkat ke Tanah Suci.

Pemahaman yang benar akan membantu jemaah menjalankan setiap rangkaian ibadah dengan lebih tenang. Selain itu, jemaah dapat menghindari kesalahan yang muncul karena kurangnya pengetahuan tentang manasik.

Secara umum, rangkaian umroh terdiri dari ihram, tawaf, sa’i, serta mencukur atau memotong rambut. Panduan resmi Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi juga menjelaskan urutan tersebut sebagai tahapan utama pelaksanaan umroh.

Artikel ini membahas tata cara umroh secara praktis, mulai dari persiapan sebelum ihram hingga tahallul. Namun, perlu dipahami bahwa terdapat perbedaan pendapat ulama dalam beberapa masalah cabang. Karena itu, jemaah tetap dianjurkan mengikuti arahan pembimbing ibadah yang terpercaya.

Apa yang Dimaksud dengan Umroh Sesuai Sunnah?

Umroh sesuai sunnah berarti melaksanakan ibadah umroh dengan mencontoh tata cara yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Jemaah tidak hanya memperhatikan urutan gerakannya, tetapi juga menjaga niat, adab, dan akhlak selama beribadah.

Rasulullah ﷺ memberikan contoh yang jelas dalam pelaksanaan manasik. Beliau berihram, membaca talbiyah, melakukan tawaf, melaksanakan sa’i antara Safa dan Marwah, kemudian mengakhiri ihram dengan mencukur atau memotong rambut.

Mengikuti sunnah juga berarti tidak menambahkan ritual khusus yang tidak memiliki dasar. Jemaah sebaiknya beribadah dengan sederhana, khusyuk, serta tidak memberatkan diri dengan bacaan yang belum dipahami.

Persiapan Sebelum Melaksanakan Umroh

Sebelum memasuki rangkaian utama umroh, jemaah perlu menyiapkan ilmu, fisik, dan hati. Persiapan tersebut akan membuat pelaksanaan ibadah terasa lebih tertib.

1. Meluruskan niat karena Allah

Niat merupakan dasar dari seluruh ibadah. Karena itu, tujuan utama berangkat umroh haruslah untuk mencari keridaan Allah.

Jangan menjadikan umroh hanya sebagai kesempatan berlibur, berbelanja, membuat konten, atau mendapatkan pengakuan dari orang lain. Dokumentasi perjalanan boleh dilakukan secara wajar. Namun, jangan sampai kegiatan tersebut mengganggu kekhusyukan ibadah.

Sebelum berangkat, perbanyaklah istigfar dan mohon kepada Allah agar diberi kemudahan. Jemaah juga sebaiknya menyelesaikan utang, mengembalikan hak orang lain, dan meminta maaf kepada keluarga.

2. Mempelajari tata cara umroh

Jangan bergantung sepenuhnya kepada pembimbing. Setiap jemaah perlu mengetahui rukun, kewajiban, larangan ihram, serta urutan pelaksanaan umroh.

Ikutilah kegiatan manasik sebelum keberangkatan. Selain itu, simpan catatan singkat mengenai bacaan talbiyah dan urutan ibadah agar mudah dipelajari kembali.

Persiapan ilmu penting karena perjalanan umroh dapat berlangsung dalam kondisi ramai. Jika terpisah dari rombongan, jemaah tetap dapat melanjutkan ibadah dengan tenang.

3. Menyiapkan kondisi fisik

Tawaf dan sa’i membutuhkan kemampuan berjalan yang cukup. Oleh sebab itu, lakukan olahraga ringan beberapa minggu sebelum keberangkatan.

Biasakan berjalan kaki, tidur cukup, dan menjaga pola makan. Jemaah juga perlu membawa obat pribadi sesuai kebutuhan. Selama berada di Tanah Suci, minumlah air yang cukup dan jangan memaksakan diri ketika tubuh terasa lemah.

Cara Umroh Sesuai Sunnah dari Miqat hingga Tahallul

Berikut merupakan urutan pelaksanaan umroh yang dapat dijadikan panduan praktis.

1. Bersiap untuk Ihram

Ihram bukan hanya pakaian berwarna putih. Ihram adalah keadaan ketika seseorang telah berniat memasuki ibadah umroh dan mulai terikat dengan larangan ihram.

Sebelum sampai di miqat, jemaah dapat mandi, membersihkan diri, dan mengenakan pakaian ihram. Persiapan sebaiknya dilakukan lebih awal agar tidak terburu-buru.

Laki-laki mengenakan dua lembar kain ihram yang tidak membentuk pakaian seperti baju dan celana. Sementara itu, perempuan memakai pakaian syar’i yang menutup aurat. Tidak ada ketentuan bahwa pakaian ihram perempuan harus berwarna putih. Panduan resmi juga menjelaskan bahwa perempuan dapat memakai pakaian yang sopan dan tidak digunakan untuk berhias secara berlebihan.

Jemaah yang menggunakan pesawat harus memperhatikan pengumuman mengenai waktu melewati miqat. Jangan menunda niat hingga pesawat melewati batas miqat.

2. Berniat Umroh di Miqat

Ketika sampai atau sejajar dengan miqat, jemaah berniat umroh di dalam hati. Selanjutnya, jemaah dapat mengucapkan:

Labbaika ‘umratan.

Artinya: “Aku memenuhi panggilan-Mu untuk melaksanakan umroh.”

Niat berada di dalam hati. Ucapan tersebut menjadi penegasan bahwa jemaah mulai memasuki ibadah umroh.

Setelah berniat, seluruh larangan ihram mulai berlaku. Jemaah tidak boleh memotong rambut dan kuku, memakai wangi-wangian, melakukan hubungan suami istri, berburu hewan darat, atau melangsungkan akad nikah.

Khusus laki-laki, kepala tidak boleh ditutup dengan penutup yang melekat. Laki-laki juga tidak memakai pakaian yang membentuk anggota tubuh seperti baju, celana, atau pakaian dalam. Sementara itu, perempuan tidak memakai cadar dan sarung tangan selama ihram.

3. Memperbanyak Bacaan Talbiyah

Setelah berniat, jemaah dianjurkan membaca talbiyah:

Labbaika Allahumma labbaik. Labbaika la syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, la syarika lak.

Artinya:

“Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah. Aku memenuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.”

Talbiyah tersebut juga diriwayatkan dalam penjelasan mengenai manasik Rasulullah ﷺ.

Laki-laki dianjurkan mengeraskan suara tanpa mengganggu orang lain. Sementara itu, perempuan membaca talbiyah dengan suara yang cukup didengar oleh dirinya sendiri atau orang di dekatnya.

Talbiyah terus dibaca selama perjalanan menuju Masjidil Haram. Jemaah dapat menghentikannya ketika akan memulai tawaf umroh.

4. Memasuki Masjidil Haram dengan Tertib

Ketika memasuki Masjidil Haram, dahulukan kaki kanan dan bacalah doa masuk masjid. Jaga pandangan, sikap, dan ketenangan.

Saat pertama kali melihat Ka’bah, jemaah dapat berdoa dengan doa yang baik. Namun, tidak perlu meyakini adanya satu bacaan khusus yang wajib dibaca ketika melihat Ka’bah.

Segera persiapkan diri untuk melaksanakan tawaf. Pastikan aurat tertutup dengan baik. Selain itu, usahakan tetap dalam keadaan suci dan berwudu.

Simpan sandal di dalam tas agar tidak mengganggu jemaah lain. Pastikan pula posisi rombongan atau titik pertemuan sudah diketahui sebelum memasuki area tawaf.

5. Melaksanakan Tawaf Tujuh Putaran

Tawaf dilakukan dengan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran. Ka’bah berada di sebelah kiri, sedangkan putaran dimulai dan diakhiri sejajar dengan Hajar Aswad.

Saat sejajar dengan Hajar Aswad, jemaah menghadap ke arahnya dan mengucapkan:

Bismillahi Allahu Akbar.

Apabila memungkinkan tanpa menyakiti orang lain, Hajar Aswad dapat disentuh atau dicium. Akan tetapi, jangan memaksa ketika kondisinya sangat padat. Cukup mengangkat tangan ke arah Hajar Aswad dan mengucapkan takbir.

Mencium Hajar Aswad adalah sunnah, sedangkan menjaga keselamatan dan tidak menyakiti sesama Muslim merupakan kewajiban. Karena itu, jangan mendorong, berteriak, atau berebut secara berlebihan.

Bagi laki-laki, disunnahkan melakukan idtiba’, yaitu membuka bahu kanan selama tawaf umroh. Kain bagian atas diletakkan di bawah ketiak kanan dan kedua ujungnya berada di atas bahu kiri. Setelah tawaf selesai, tutup kembali kedua bahu sebelum mengerjakan salat.

Laki-laki juga disunnahkan berjalan agak cepat dengan langkah pendek pada tiga putaran pertama apabila keadaan memungkinkan. Empat putaran berikutnya dilakukan dengan berjalan biasa. Perempuan berjalan seperti biasa pada seluruh putaran.

Selama tawaf, jemaah dapat membaca Al-Qur’an, berzikir, beristigfar, berselawat, atau memanjatkan doa. Tidak ada keharusan membaca doa berbeda untuk setiap putaran. Gunakan doa yang dipahami agar hati lebih khusyuk.

6. Salat Dua Rakaat Setelah Tawaf

Setelah menyelesaikan tujuh putaran, jemaah menuju area Maqam Ibrahim apabila keadaan memungkinkan. Bacalah ayat:

Wattakhidzu min maqāmi Ibrāhīma mushallā.

Artinya: “Jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat salat.”

Kemudian, lakukan salat sunnah dua rakaat. Pada rakaat pertama, setelah Al-Fatihah, dianjurkan membaca Surah Al-Kafirun. Pada rakaat kedua, bacalah Surah Al-Ikhlas. Hal ini disebutkan dalam riwayat mengenai tata cara manasik Rasulullah ﷺ.

Tidak perlu memaksakan diri salat tepat di belakang Maqam Ibrahim. Apabila area tersebut padat, salatlah di tempat lain di dalam Masjidil Haram agar tidak menghalangi orang yang sedang tawaf.

Setelah itu, jemaah dapat meminum air zamzam. Minumlah sambil berdoa kepada Allah untuk memperoleh kebaikan, kesehatan, ilmu yang bermanfaat, dan keberkahan.

7. Melaksanakan Sa’i antara Safa dan Marwah

Setelah tawaf, jemaah menuju Bukit Safa untuk memulai sa’i. Bacalah firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 158:

Innas shafā wal marwata min sya‘ā’irillāh.

Artinya: “Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian dari syiar Allah.”

Kemudian ucapkan:

Abda’u bimā bada’allāhu bih.

Artinya: “Aku memulai dengan apa yang dimulai oleh Allah.”

Di Safa, hadapkan tubuh ke arah Ka’bah jika memungkinkan. Setelah itu, bertakbirlah, bertahlil, dan berdoa. Rasulullah ﷺ memulai sa’i dari Safa, memperbanyak tahlil, kemudian memanjatkan doa.

Berjalanlah dari Safa menuju Marwah. Perjalanan dari Safa ke Marwah dihitung sebagai satu putaran. Perjalanan dari Marwah kembali ke Safa menjadi putaran kedua. Lanjutkan hingga tujuh putaran dan akhiri di Marwah.

Laki-laki dianjurkan berlari kecil di antara dua tanda lampu hijau apabila kondisi fisik dan kepadatan memungkinkan. Perempuan tetap berjalan seperti biasa.

Selama sa’i, tidak ada bacaan khusus yang wajib dibaca pada setiap perjalanan. Jemaah dapat berzikir dan berdoa sesuai kebutuhan.

8. Tahallul dengan Mencukur atau Memotong Rambut

Setelah menyelesaikan tujuh putaran sa’i di Marwah, jemaah melakukan tahallul. Laki-laki dapat mencukur seluruh rambut atau memendekkannya secara merata.

Mencukur rambut hingga habis lebih utama bagi laki-laki. Namun, apabila masih akan melaksanakan umroh lain dalam waktu dekat atau mempunyai pertimbangan tertentu, rambut dapat dipendekkan secara merata.

Perempuan cukup mengumpulkan ujung rambutnya, lalu memotongnya kurang lebih sepanjang ujung jari. Rambut perempuan harus dipotong di tempat yang tertutup dan tidak terlihat oleh laki-laki bukan mahram. Panduan resmi umroh juga menjelaskan tahallul sebagai penutup rangkaian ibadah, dengan laki-laki mencukur atau memendekkan rambut dan perempuan memotong ujung rambutnya.

Setelah rambut dipotong, rangkaian umroh telah selesai. Seluruh larangan ihram kembali menjadi halal.

Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Umroh

Meskipun tata cara umroh terlihat sederhana, beberapa kesalahan masih sering terjadi.

Melewati miqat tanpa berniat

Jemaah yang akan melakukan umroh harus berniat sebelum melewati miqat. Karena itu, perhatikan arahan pembimbing ketika berada di pesawat atau kendaraan.

Menganggap ihram hanya sebagai pakaian

Seseorang belum berada dalam keadaan ihram hanya karena sudah memakai kain ihram. Ihram dimulai setelah niat umroh dilakukan di miqat.

Berebut mencium Hajar Aswad

Jangan menyakiti jemaah lain demi menjalankan amalan sunnah. Apabila keadaan padat, cukup memberikan isyarat dari kejauhan.

Salah menghitung putaran sa’i

Perjalanan Safa ke Marwah dihitung satu putaran, bukan pergi dan pulang sekaligus. Putaran ketujuh berakhir di Marwah.

Membuka bahu kanan di luar tawaf

Idtiba’ hanya dilakukan oleh laki-laki ketika tawaf umroh. Setelah tawaf selesai, bahu kanan harus ditutup kembali, terutama ketika melaksanakan salat.

Terlalu sibuk mengambil foto

Dokumentasi yang berlebihan dapat mengurangi kekhusyukan. Utamakan ibadah, doa, zikir, dan interaksi hati dengan Allah.

Menjaga Akhlak Selama Menjalankan Umroh

Cara umroh sesuai sunnah tidak hanya berkaitan dengan gerakan. Akhlak selama perjalanan juga harus diperhatikan.

Bersabarlah ketika menghadapi antrean, cuaca panas, perubahan jadwal, atau kepadatan jemaah. Hindari perdebatan dan jangan mudah marah.

Bantulah jemaah lanjut usia, tetapi tetap perhatikan keselamatan. Jagalah kebersihan kamar, kendaraan, masjid, dan tempat umum.

Selain itu, hormati petugas serta patuhi aturan yang berlaku. Kekhusyukan tidak boleh membuat seseorang mengabaikan ketertiban dan hak orang lain.

Penutup

Memahami cara umroh sesuai sunnah akan membantu jemaah beribadah dengan lebih yakin dan tenang. Rangkaian utamanya dimulai dengan ihram dari miqat, dilanjutkan dengan tawaf tujuh putaran, sa’i antara Safa dan Marwah, lalu diakhiri dengan mencukur atau memotong rambut.

Namun, kesempurnaan umroh tidak hanya dinilai dari selesainya rangkaian tersebut. Jemaah juga perlu menjaga keikhlasan, kesabaran, adab, dan akhlak selama berada di Tanah Suci.

Pelajarilah manasik sebelum berangkat dan ikuti arahan pembimbing yang memahami Al-Qur’an serta sunnah. Semoga Allah memudahkan perjalanan, menerima seluruh amal ibadah, dan menganugerahkan umroh yang mabrur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *