Zam Zam Square Jalan Raya Condet
+62 813 9800 2220

Mengelola Emosi dan Spiritual Selama Umrah

Mengelola Emosi dan Spiritualitas Selama Umrah: Tips Berharga untuk Jamaah yang Memulai Perjalanan Ibadah

Ibadah umrah adalah perjalanan rohani yang penuh makna bagi umat Islam. Untuk memastikan pengalaman ibadah yang bermakna, mengelola emosi dan menjaga spiritual menjadi hal yang sangat penting.

Menjalani perjalanan ini membutuhkan keseimbangan emosi yang baik serta kesadaran spiritual yang kuat. Salah satu tips berharga adalah dengan mempersiapkan diri secara mental dan emosional sebelum berangkat. Ini melibatkan membaca literatur yang relevan, berdiskusi dengan mereka yang telah melakukan Umrah sebelumnya, serta merencanakan strategi untuk menjaga ketenangan batin saat menghadapi situasi yang mungkin menantang selama perjalanan.

Saat menjalankan Umrah, penting untuk memahami bahwa perjalanan ini tidaklah selalu mulus. Munculnya rasa lelah, ketidaknyamanan fisik, atau bahkan ketegangan dalam kelompok bisa terjadi. Oleh karena itu, penting untuk mengelola emosi dengan baik. Berlatih kesabaran, memahami bahwa perjalanan ini adalah ujian dan kesempatan untuk bertumbuh secara spiritual, dapat membantu menjaga ketenangan pikiran. Selain itu, merenungkan tujuan spiritual dari Umrah, yakni mendekatkan diri kepada Allah, juga membantu menjaga fokus dan menyeimbangkan emosi dalam situasi apapun.

Berikut adalah beberapa tips dan saran berharga bagi para jamaah yang memulai perjalanan umrah untuk mengelola emosi dan spiritual:

1. Persiapan Mental dan Emosional

  • Kondisi Mental yang Positif: Persiapkan diri dengan pikiran yang tenang dan positif sebelum berangkat. Pikirkan tentang keberkahan perjalanan ini.
  • Kesabaran: Bersiaplah secara mental untuk menghadapi segala situasi yang mungkin tidak terduga. Pertahankan kesabaran dan ketenangan di tengah tantangan.

Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ  وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ، وَإِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ

“Bila salah satu di antara kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marahnya telah hilang (maka sudah cukup). Namun jika tidak lenyap pula maka berbaringlah.” (HR. Abu Daud, no. 4782. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

2. Menjaga Kesehatan Spiritual

  • Doa dan Zikir: Jaga kesehatan spiritual dengan melakukan doa dan zikir. Manfaatkan setiap kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Sulaiman bin Shurod radhiyallahu ‘anhu berkata,

كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ، فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ، وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ “

“Pada suatu hari aku duduk bersama-sama Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam sedang dua orang lelaki sedang saling mengeluarkan kata-kata kotor satu dan lainnya. Salah seorang daripadanya telah merah mukanya dan tegang pula urat lehernya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Sesungguhnya aku tahu satu perkataan sekiranya dibaca tentu hilang rasa marahnya jika sekiranya ia mau membaca, ‘A’udzubillahi minas-syaitani’ (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan), niscaya hilang kemarahan yang dialaminya.” (HR Bukhari, no. 3282)

Juga ada hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

إِذَا غَضِبَ الرَّجُلُ فَقَالَ أَعُوْذُ بِاللهِ ، سَكَنَ غَضْبُهُ

“Jika seseorang dalam keadaan marah, lantas ia ucapkan, ‘A’udzu billah (Aku meminta perlindungan kepada Allah)’, maka redamlah marahnya.” (HR. As-Sahmi dalam Tarikh Jarjan, 252. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1376)

  • Renungan dan Refleksi: Sempatkan waktu untuk merenung dan merefleksikan tujuan perjalanan rohani ini serta kesempatan yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala..

3. Fleksibilitas dalam Perencanaan

  • Siap dengan Perubahan Rencana: Beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang mungkin terjadi dalam rencana perjalanan. Bersikaplah fleksibel agar tidak terpengaruh oleh perubahan tersebut.

4. Pengelolaan Emosi Selama Perjalanan

  • Kontrol Diri: Tetaplah tenang dan terkendali dalam setiap situasi, terutama saat perjalanan mungkin tidak sesuai dengan harapan.

Sebelum memuntahkan amarah kepada orang lain atau benda sekalipun, baiknya orang memperhatikan hadits berikut yang berisi pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seseorang yang meminta nasehat dari beliau.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah aku wasiat.” Beliau menjawab, “Janganlah engkau marah.” Lelaki itu mengulang-ulang permintaannya, (namun) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (selalu) menjawab, “Janganlah engkau marah.” (HR. Bukhari, no. 6116)

Dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَظَمَ غَيْظاً وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنَفِّذهُ دَعَأهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنَ الْحُوْرِ مَا شَاءَ

“Barang siapa menahan amarahnya padahal mampu meluapkannya, Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk pada hari Kiamat untuk memberinya pilihan bidadari yang ia inginkan.” (HR. Abu Daud, no. 4777; Ibnu Majah, no. 4186. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sanadnya hasan)

  • Berbagi Pengalaman: Berbicaralah dengan sesama jamaah atau panduannya jika merasa stres atau cemas. Berbagi pengalaman dapat membantu mengurangi beban emosional.

5. Manfaatkan Setiap Momen

  • Kedekatan dengan Tempat Suci: Rasakan momen yang berharga saat berada di tempat-tempat suci, seperti Makkah dan Madinah. Manfaatkan momen ini untuk memperdalam spiritualitas.

6. Penghormatan terhadap Jamaah Lain

  • Kesadaran dan Penghormatan: Hormati dan hargai jamaah lainnya. Tidak semua orang memiliki tingkat kesiapan dan kenyamanan yang sama dalam menjalani perjalanan rohani ini.

7. Menerima Perbedaan

  • Menerima Keberagaman: Umroh dihadiri oleh jamaah dari berbagai latar belakang. Terimalah perbedaan dan tetaplah bersikap inklusif dalam interaksi dengan sesama jamaah.

8. Bersyukur

Rasa Syukur: Tanamkan rasa syukur atas kesempatan melakukan ibadah umroh. Sampaikan rasa terima kasih kepada Allah atas pengalaman yang diberikan.

Perjalanan umrah menuntut kesiapan mental, emosional, dan spiritual. Dengan persiapan yang matang dan kemampuan untuk mengelola emosi, jamaah dapat memastikan pengalaman ibadah yang lebih dalam dan bermakna selama perjalanan umroh mereka.

Semoga kiat-kiat ini semakin meneguhkan kita dalam Mengelola Emosi dan Spiritualitas Selama Umrah bersama Sunna Travel.

sumber : rumaysho.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tanya Sunna
1
Admin Infoin Yuk
Hubungi Kami
Selamat datang di Sunna Travel & Tour.
Bismillah, tidak lama lagi Anda akan berangkat umrah
Semoga Allah mudahkan.. Aamiin.

Silahkan ajukan pertanyaan Anda...