
Kesalahan Jamaah Umroh yang Sering Terjadi dan Cara Menghindarinya

Umroh merupakan perjalanan ibadah yang membutuhkan persiapan fisik, mental, ilmu, dan kesabaran. Setiap jamaah tentu ingin menjalankan seluruh rangkaian ibadah dengan benar, tenang, dan khusyuk. Namun, keterbatasan pengetahuan, kondisi lokasi yang padat, kelelahan, hingga kurangnya koordinasi sering membuat jamaah melakukan kesalahan selama perjalanan.
Kesalahan tersebut tidak selalu menyebabkan ibadah menjadi tidak sah. Meskipun demikian, beberapa kesalahan dapat mengurangi kekhusyukan, mengganggu jamaah lain, bahkan berpotensi berkaitan dengan pelanggaran ihram. Oleh karena itu, jamaah perlu mempelajari tata cara umroh sebelum berangkat dan tidak hanya mengandalkan arahan ketika sudah berada di Tanah Suci.
Berikut sejumlah kesalahan jamaah umroh yang sering terjadi beserta cara menghindarinya.
1. Kurang Mempelajari Tata Cara Umroh
Kesalahan yang paling mendasar adalah berangkat tanpa memahami urutan ibadah umroh. Sebagian jamaah hanya menghafal beberapa doa, tetapi belum memahami rukun, kewajiban, larangan ihram, dan urutan pelaksanaannya.
Akibatnya, jamaah mudah merasa bingung ketika rombongan terpisah, tidak mendengar arahan pembimbing, atau menghadapi kondisi yang berbeda dari simulasi.
Secara umum, rangkaian umroh meliputi niat ihram dari miqat, thawaf, sa’i, kemudian tahallul. Seluruh rangkaian tersebut perlu dilakukan dengan urutan yang benar.
Cara menghindarinya
Ikuti manasik umroh dengan serius sebelum keberangkatan. Catat poin-poin penting, seperti lokasi miqat, tata cara niat, larangan ihram, urutan thawaf, jalur sa’i, dan cara tahallul.
Simpan pula panduan ringkas di ponsel atau buku kecil. Pastikan jamaah memahami inti ibadah, bukan sekadar mengikuti gerakan orang lain.
2. Terlambat Berniat Ihram dari Miqat
Miqat adalah batas tempat dimulainya ihram bagi jamaah yang hendak melaksanakan umroh. Salah satu kesalahan yang perlu diwaspadai adalah melewati miqat tanpa berniat ihram, padahal sejak awal jamaah memang berniat menuju Makkah untuk umroh.
Hal ini dapat terjadi karena jamaah tertidur di pesawat, tidak memperhatikan pengumuman, belum mengganti pakaian ihram, atau mengira niat baru dilakukan setelah sampai di hotel.
Cara menghindarinya
Kenakan pakaian ihram lebih awal, terutama ketika perjalanan dilakukan menggunakan pesawat. Jamaah laki-laki dapat mengenakan kain ihram sebelum pesawat mendekati miqat. Jamaah perempuan tetap menggunakan pakaian syar’i yang menutup aurat dan tidak memiliki pakaian ihram khusus.
Niat dilakukan ketika berada di miqat atau saat pesawat sejajar dengan miqat. Perhatikan arahan pembimbing dan pengumuman dari kru penerbangan. Jangan menunggu sampai tiba di Makkah.
3. Menganggap Pakaian Ihram Saja Sudah Berarti Ihram
Sebagian jamaah mengira bahwa setelah memakai kain ihram, seluruh larangan ihram langsung berlaku. Padahal, keadaan ihram dimulai setelah jamaah berniat masuk ke dalam ibadah umroh.
Sebaliknya, ada pula jamaah yang sudah berniat ihram tetapi merasa belum terikat larangan karena belum sampai di Masjidil Haram.
Cara menghindarinya
Bedakan antara pakaian ihram dan keadaan ihram. Kain ihram adalah pakaian yang digunakan jamaah laki-laki, sedangkan keadaan ihram dimulai setelah niat.
Setelah berniat, jamaah harus menjaga diri dari berbagai larangan ihram sampai selesai tahallul. Dengarkan penjelasan pembimbing mengenai larangan yang berlaku bagi laki-laki dan perempuan.
4. Menggunakan Wewangian Setelah Berniat Ihram
Memakai parfum sebelum berniat ihram diperbolehkan pada tubuh, sesuai tuntunan yang dijelaskan dalam pembekalan ibadah. Namun, sebagian jamaah kembali menggunakan parfum, minyak wangi, atau produk beraroma kuat setelah niat ihram.
Produk seperti sabun, tisu basah, losion, dan deodoran juga terkadang mengandung pewangi tanpa disadari.
Cara menghindarinya
Siapkan perlengkapan mandi tanpa pewangi sebelum berangkat. Periksa label sabun, sampo, losion, dan tisu basah yang akan digunakan selama ihram.
Pisahkan perlengkapan ihram dalam satu tas kecil agar mudah ditemukan. Setelah tahallul, jamaah baru dapat kembali menggunakan produk beraroma seperti biasa.
5. Membuka Bahu Kanan Sejak dari Hotel
Sebagian jamaah laki-laki membuka bahu kanan sejak memakai pakaian ihram, selama perjalanan, ketika salat, bahkan saat berada di hotel. Praktik membuka bahu kanan atau idtiba tidak dilakukan sepanjang waktu.
Idtiba hanya dilakukan dalam kondisi tertentu saat thawaf oleh jamaah laki-laki. Ketika salat, kedua bahu sebaiknya ditutup dengan baik.
Cara menghindarinya
Gunakan kain ihram atas untuk menutup kedua bahu selama perjalanan dan ketika salat. Bukalah bahu kanan hanya ketika akan melakukan thawaf yang disyariatkan menggunakan idtiba, sesuai arahan pembimbing.
Setelah selesai thawaf, rapikan kembali kain ihram dan tutup kedua bahu.
6. Memaksakan Diri Mendekati Hajar Aswad
Mencium atau menyentuh Hajar Aswad merupakan amalan yang memiliki keutamaan. Namun, jamaah tidak perlu memaksakan diri ketika kondisi sangat padat.
Dorong-mendorong, menyakiti orang lain, berteriak, atau mengambil risiko terjatuh bukanlah sikap yang tepat. Keinginan menjalankan amalan sunnah tidak boleh dilakukan dengan mengganggu keselamatan jamaah lain.
Cara menghindarinya
Apabila memungkinkan tanpa berdesakan, jamaah dapat mendekati Hajar Aswad. Jika situasi padat, cukup memberikan isyarat dari kejauhan ketika melewati posisinya, kemudian melanjutkan thawaf.
Utamakan keselamatan, ketertiban, dan kelembutan. Jangan berhenti terlalu lama di jalur thawaf karena dapat menghambat pergerakan jamaah di belakang.
7. Salah Menghitung Putaran Thawaf
Kelelahan dan suasana yang ramai sering membuat jamaah lupa jumlah putaran thawaf. Ada yang memulai hitungan dari posisi yang salah atau kehilangan fokus karena terlalu sibuk berbicara, merekam video, dan memperhatikan rombongan.
Thawaf dimulai sejajar dengan Hajar Aswad dan dilakukan sebanyak tujuh putaran dengan Ka’bah berada di sebelah kiri.
Cara menghindarinya
Gunakan penanda sederhana, seperti penghitung digital, gelang penghitung, atau catatan pada jari. Jamaah juga dapat menghitung bersama pasangan atau anggota rombongan.
Tetap fokus pada ibadah. Kurangi percakapan yang tidak diperlukan dan jangan terlalu sering menggunakan ponsel selama thawaf.
Jika ragu terhadap jumlah putaran, tanyakan kepada pembimbing agar dapat mengambil langkah yang tepat.
8. Membaca Doa dengan Suara Terlalu Keras
Tidak sedikit jamaah membaca doa secara bersama-sama dengan suara keras ketika thawaf atau sa’i. Suara yang terlalu tinggi dapat mengganggu kekhusyukan orang lain dan membuat jalur pergerakan kurang tertib.
Sebagian jamaah juga mengira setiap putaran thawaf memiliki doa khusus yang wajib dibaca. Padahal, jamaah dapat berdzikir, berdoa, membaca Al-Qur’an, atau menyampaikan permohonan kebaikan dengan bahasa yang dipahami.
Cara menghindarinya
Bacalah doa dengan suara lembut. Tidak perlu berteriak agar doa dianggap lebih baik. Allah mengetahui setiap permohonan hamba-Nya, termasuk yang disampaikan dalam hati.
Siapkan beberapa doa penting sebelum berangkat, tetapi jangan merasa terbebani untuk menghafal terlalu banyak bacaan. Fokuslah pada makna, ketulusan, dan kekhusyukan.
9. Berjalan Melawan Arus atau Berhenti Mendadak
Area thawaf dan sa’i memiliki arus pergerakan yang terus berjalan. Jamaah yang tiba-tiba berhenti untuk berfoto, mencari anggota rombongan, memperbaiki pakaian, atau mengambil barang dapat menyebabkan jamaah lain bertabrakan.
Kesalahan ini semakin berbahaya ketika Masjidil Haram sedang padat.
Cara menghindarinya
Apabila perlu berhenti, bergeraklah perlahan menuju sisi jalur yang lebih aman. Jangan berhenti di tengah arus.
Sebelum memulai ibadah, pastikan pakaian, sandal, tas, dan perlengkapan sudah terpasang dengan nyaman. Tentukan pula titik pertemuan apabila rombongan terpisah.
10. Menganggap Harus Selalu Berdekatan dengan Ka’bah
Sebagian jamaah merasa thawaf tidak sempurna apabila dilakukan jauh dari Ka’bah. Akibatnya, mereka berusaha masuk ke jalur yang sangat padat meskipun kondisi fisiknya tidak memungkinkan.
Padahal, thawaf dapat dilakukan di area yang telah disediakan selama tetap mengelilingi Ka’bah sesuai ketentuan.
Cara menghindarinya
Pilih jalur thawaf berdasarkan kemampuan fisik dan kondisi kepadatan. Lansia, jamaah dengan penyakit tertentu, serta pengguna kursi roda sebaiknya mengikuti jalur yang lebih aman.
Jarak yang lebih jauh mungkin membuat waktu thawaf bertambah, tetapi keselamatan dan ketenangan tetap harus menjadi pertimbangan utama.
11. Keliru Memulai dan Mengakhiri Sa’i
Sa’i dilakukan sebanyak tujuh kali perjalanan antara Bukit Shafa dan Marwah. Perjalanan dari Shafa menuju Marwah dihitung satu kali. Perjalanan kembali dari Marwah menuju Shafa dihitung sebagai hitungan berikutnya.
Kesalahan sering terjadi ketika jamaah menganggap perjalanan pergi dan pulang sebagai satu putaran. Ada pula yang memulai dari Marwah atau mengakhiri sa’i di tempat yang keliru.
Cara menghindarinya
Ingat pola sederhana: sa’i dimulai dari Shafa dan berakhir di Marwah. Ketika tiba di Marwah untuk pertama kali, hitungannya adalah satu. Setelah tujuh kali perjalanan, jamaah akan berakhir di Marwah.
Perhatikan papan petunjuk dan ikuti arahan pembimbing. Gunakan alat penghitung apabila mudah lupa.
12. Jamaah Perempuan Ikut Berlari Terlalu Cepat
Pada bagian tertentu di jalur sa’i terdapat tanda lampu hijau. Jamaah laki-laki disunnahkan berjalan lebih cepat pada area tersebut sesuai kemampuan. Namun, sebagian jamaah perempuan ikut berlari karena mengikuti jamaah di depan.
Cara menghindarinya
Jamaah perempuan cukup berjalan seperti biasa tanpa berlari. Jamaah laki-laki juga tidak perlu memaksakan diri apabila kondisi fisiknya lemah, jalur terlalu padat, atau berisiko menabrak orang lain.
Ibadah tidak seharusnya membahayakan diri sendiri maupun jamaah lain.
13. Tahallul Tidak Dilakukan dengan Benar
Tahallul menjadi penanda berakhirnya rangkaian umroh. Kesalahan yang sering terjadi adalah hanya memotong beberapa helai rambut tanpa memahami ketentuannya atau memotong rambut sebelum sa’i selesai.
Jamaah laki-laki dianjurkan mencukur habis rambut kepala atau memendekkannya secara merata. Jamaah perempuan cukup memotong sedikit ujung rambutnya sesuai tuntunan.
Cara menghindarinya
Lakukan tahallul setelah menyelesaikan sa’i. Jamaah laki-laki dapat menggunakan jasa cukur yang resmi dan menjaga kebersihan alat.
Jamaah perempuan sebaiknya memotong rambut di tempat tertutup agar aurat tetap terjaga. Mintalah bantuan sesama perempuan atau mahram bila diperlukan.
14. Terlalu Sibuk Berfoto dan Membuat Konten
Mengabadikan perjalanan umroh diperbolehkan selama dilakukan dengan bijak. Namun, aktivitas mengambil foto dan video dapat menjadi masalah ketika mengganggu jalannya ibadah, menghalangi orang lain, atau membuat jamaah kehilangan kekhusyukan.
Ada pula jamaah yang terlalu fokus mencari sudut foto hingga terpisah dari rombongan.
Cara menghindarinya
Tentukan waktu khusus untuk mengambil dokumentasi di luar rangkaian utama ibadah. Ketika thawaf, sa’i, salat, dan berdoa, simpan ponsel agar perhatian lebih terjaga.
Hindari merekam orang lain dari jarak dekat tanpa izin. Jaga adab, privasi, dan niat ketika membagikan pengalaman umroh di media sosial.
15. Mengabaikan Kondisi Fisik
Semangat beribadah terkadang membuat jamaah memaksakan diri. Mereka berjalan terlalu jauh, kurang minum, terlambat makan, dan tidak beristirahat meskipun tubuh sudah memberikan tanda kelelahan.
Akibatnya, jamaah dapat mengalami dehidrasi, pusing, nyeri kaki, atau sakit yang mengganggu rangkaian perjalanan berikutnya.
Cara menghindarinya
Atur ibadah sesuai kemampuan. Minum air secara berkala, konsumsi makanan bergizi, gunakan alas kaki yang nyaman di luar masjid, dan manfaatkan waktu istirahat.
Bawa obat pribadi serta perlengkapan kesehatan di tas kecil. Jamaah yang mempunyai penyakit tertentu perlu mengikuti arahan dokter dan memberitahukan kondisinya kepada ketua rombongan.
16. Tidak Menentukan Titik Pertemuan Rombongan
Masjidil Haram memiliki area yang luas dengan banyak pintu. Jamaah dapat terpisah karena kepadatan, salah memilih pintu keluar, atau kehilangan sinyal komunikasi.
Kepanikan sering membuat jamaah berjalan semakin jauh dan sulit ditemukan.
Cara menghindarinya
Sebelum masuk masjid, tentukan satu titik pertemuan yang jelas. Jangan hanya mengatakan “bertemu di depan masjid” karena area tersebut sangat luas.
Catat nama hotel, nomor telepon pembimbing, nomor bus, dan identitas rombongan. Jamaah lansia sebaiknya membawa kartu identitas hotel dan gelang pengenal.
17. Mudah Marah dan Berdebat
Kepadatan, antrean panjang, perubahan jadwal, dan kelelahan dapat memancing emosi. Sebagian jamaah menjadi mudah marah kepada pasangan, petugas, pembimbing, atau jamaah lain.
Padahal, perjalanan umroh juga merupakan latihan kesabaran, pengendalian diri, dan menjaga akhlak.
Cara menghindarinya
Tanamkan sejak awal bahwa perjalanan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Berikan ruang untuk kemungkinan antrean, keterlambatan, perubahan kendaraan, atau perbedaan kebiasaan.
Ketika emosi muncul, berhenti sejenak, berdzikir, dan hindari perdebatan. Sampaikan keluhan kepada pembimbing dengan bahasa yang baik dan pada waktu yang tepat.
Pentingnya Memilih Pendamping Umroh yang Amanah
Persiapan ilmu tetap menjadi tanggung jawab setiap jamaah. Namun, keberadaan pembimbing dan travel umroh yang profesional dapat membantu jamaah menjalankan ibadah dengan lebih tertib.
Travel yang amanah biasanya memberikan manasik yang jelas, informasi perjalanan yang transparan, pembimbing berpengalaman, serta pendampingan bagi jamaah lansia dan keluarga.
Jamaah juga perlu aktif bertanya apabila belum memahami suatu ketentuan. Jangan mengambil keputusan berdasarkan perkiraan sendiri, terutama dalam persoalan yang berkaitan dengan rukun, kewajiban, larangan ihram, atau kondisi khusus perempuan.
Kesimpulan
Kesalahan jamaah umroh dapat terjadi karena kurangnya ilmu, kelelahan, kepadatan, atau kurangnya koordinasi. Kesalahan yang paling sering ditemui antara lain terlambat berniat dari miqat, kurang memahami larangan ihram, salah menghitung thawaf dan sa’i, memaksakan diri mendekati Hajar Aswad, tahallul yang kurang tepat, serta mengabaikan kondisi kesehatan.
Cara terbaik untuk menghindarinya adalah mempelajari manasik dengan baik, mengikuti arahan pembimbing, menjaga komunikasi dengan rombongan, dan mengutamakan keselamatan. Jamaah juga perlu menjaga niat, kesabaran, dan adab selama berada di Tanah Suci.
Umroh bukan sekadar perjalanan menuju Makkah dan Madinah. Umroh merupakan kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah, memperbaiki akhlak, serta belajar menjadi pribadi yang lebih sabar dan disiplin. Dengan persiapan yang matang, insyaallah perjalanan ibadah dapat berlangsung lebih nyaman, tertib, dan khusyuk.

Previous Post